Today's Poetry:
dulu, para pelaut menggunakan gugusan bintang-bintang
sebagai penunjuk arah, untuk membimbingnya pergi
tinggalkan rumah, mengarungi benua dan kembali
dan kini, aku menggunakan gugusan bintang-bintang
untuk menemani ku menelusuri jalan pulang
di tempat mana rindu menyergap ku bertubi-tubi
Di desa Lameruru, Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, deru menyergapku siang dan malam. Deru mesin alat berat yang selalu membangunkan pagi yang berkabut, deru sepeda motor trail yang meraung meninggalkan jejak lemparan kerikil dan debu dan deru ombak yang halus terdengar di kejauhan ketika malam mulai berjatuhan bintang-bintang.
Di tempat ini bising dan sepi saling silih berganti, seperti halnya panas menyengat dan dingin yang menggigit yang juga silih berganti, tepat ketika malam yang lembut menggantikan siang yang garang. Waktu seakan melambat ketika semua yang serba tergesa-gesa seperti yang biasa kutemui di kota, Jakarta, tak kulihat di tempat ini. Matahari memang tak pernah terlambat hadir di cakrawala sesuai waktunya dan menggerakkan semua yang tengah asyik larut dalam tidurnya. Tapi sengatannya tak lantas membuat orang bersigera.
"Santai aja, pak Ram." begitu seringkali kudengar pak Gede berkata. Sambil menyeruput kopinya yang selalu lebih dulu dingin ketimbang lebih dulu habis dan menghisap sebatang dua batang rokok, sambil asyik memainkan stik bola sodok. "Satu dua putaran dulu lah," tambahnya lagi. Lalu kita memulai aktifitas hari itu, hingga tuntas. Biasa saja, tak tergesa-gesa.
Malam bergulir pada gilirannya. Menghentikan semua ketergesa-gesaan. Waktu semakin melambat, membuatku tersiksa. Maka dua malam di Langgikima, pun serasa seperti dua minggu lamanya buat seseorang yang kutinggalkan jauh di sana, di mana rumahku berada. "Kapan pulang?" tak sadar terlontar perkataan tersebut meski baru saja aku menjejakkan kaki di sana.
Aku diam tak menjawab. Bahkan aku pun lupa bahwa ini baru hari ke 3 aku di sini. Dan pertanyaan tadi sontak melecut rindu yang tiba-tiba saja menggeliat. Aku ingin pulang. Dalam ke tak-berdayaan karena waktu yang belum mengijinkan aku pulang, maka berjalan di bawah gugusan bintang-bintang menjadi salah satu pelampiasanku untuk menuju rindu. Dalam kegelapan langit yang bersih tanpa distorsi cahaya, tebaran titik-titik bintang di langit itu menjadi jauh lebih kentara dan nyata meski hanya dengan mata telanjang. Tak pernah aku bosan.
Maka dalam tebaran maha luas yang serba berketeraturan itu, rindu mengajakku menujumu. "Andai kamu bisa menyaksikan apa yang kulihat di langit malam saat ini, disini, bersamaku."
(Langgikima, Konawe Utara - Sultra, Februari 2012)
"Titip Cinta Lewat Kata"
"Duduklah disini, di sisiku. Dan, temani aku menghitung waktu"
Saturday, April 7, 2012
Monday, September 19, 2011
Utuh
Aku mencintaimu, kekasihku
Aku menginginkanmu, perempuanku
Aku merindumu, belahan jiwaku
Aku dan kamu, takdir kita bersatu
Utuh selalu
* Compiled
Seperti Aku Membutuhkanmu
seperti burung membutuhkan sarang,
seperti ikan membutuhkan air,
seperti kuda membutuhkan savana,
seperti bumi membutuhkan matahari,
seperti tata surya membutuhkan galaksi
maka dengan kadar seperti itulah
aku membutuhkanmu sekarang hingga nanti
(Cilandak, Sept 2011)
* Compiled
Subscribe to:
Posts (Atom)